Wednesday, April 06, 2005

Crystal Ball

"Coba gue liat dulu ke bola kristal gue...."

Sekarang kalimat diatas biasanya terdengar sebagai jawaban sarkastis terhadap pertanyaan tentang masa depan yang tak diketahui. Tapi bagi mereka yang mempelajari art of divination, menatap ke dalam bola kristal adalah pekerjaan serius. Di Hogwarts, Professor Trelawney membimbing murid2 kelas tiga dengan metode yang benar untuk mengintip ke dalam lingkaran berkabut ini---meyakini mereka bahwa kesabaran dan kerileksan akan menghadiahi mereka sebuah penglihatan tentang sesuatu yang bakal terjadi. Harry, Ron, dan Hermione menanggapinya dengan skeptis, tapi murid2 yang percaya bahwa bola kristal mengandung kekuatan untuk mengungkapkan sesuatu tidaklah sendirian.

Meskipun bola kristal betulan belum digunakan hingga Zaman Pertengahan, 'crystalomancy'---seni menatap ke dalam kristal yang natural maupun yang telah dipoles dalam usaha melihat ke masa depan---adalah bagian dari tradisi lama. Itu adalah sebuah bentuk dari 'scrying'---metode divinasi yang melibatkan menatap ke sebuah permukaan licin atau memantul sampai citra2 mulai muncul, apakah di dalam objek itu sendiri atau di dalam benak si penatap. Semua kultur di dunia sepertinya memiliki seni 'scrying'. Di Mesopotamia Kuno, tukang ramal menuangkan minyak ke dalam mangkuk berisi air dan meramalkan bentuk yang terjadi di permukaannya. Dalam Bible, Yusuf membawa-bawa gelas bertangkai dari perak, yang dipergunakannya untuk minum dan meramal. Orang Mesir Kuno, Arab, dan Persia menatap ke dalam mangkuk berisi susu, sementara orang Yunani memelototi cermin mengilat dan kuningan yang dipoles, berharap dapat melihat citra yang memberikan penjelasan. Orang Romawi adalah para 'crystalomancer' pertama, karena mereka memilih melihat ke dalam kristal quartz atau beryl yang dipoles (meskipun bentuknya tak harus bundar).

Bahkan pada zaman itu, seorang yang skeptis seperti Hermione akan menjadi seorang peramal yang payah, karena kesungguhan, sikap positif, dan kepercayaan akan prosesnya adalah kunci keberhasilan. Seorang 'crystalomancer' yang ideal mestinya dalam keadaan pikiran dan fisik yang bersih, setiap kali membaca ramalannya harus setelah dia berdoa dan puasa selama beberapa hari. Sebuah ruangan spesial dengan suasana khidmat dan seremonial biasanya dipergunakan untuk membaca ramalan. Persiapan dan perhatian sampai ke detil2nya itu dimaksudkan agar si peramal dapat mencapai keadaan seperti kerasukan sementara menatap bola kristalnya, maka sepertinya lebih mungkin citra2 yang dilihatnya itu hanya berada dalam pikirannya saja. Orang2 kuno percaya bahwa apapun yang dilihat oleh para 'crystalomancer' datang dari benak mereka sendiri dan bukan berasal dari dalam bola kristal. Meski begitu, penglihatan2 ini dianggap ramalan yang sebetulnya, bukan hanya lamunan.

Dalam beberapa tradisi, anak2 dianggap sebagai peramal yang terbaik, karena mereka murni dalam spiritual dan imajinasi mereka lebih luas daripada orang dewasa. Teori ini diterima luas di Eropa Renaissance, dimana seorang anak mungkin dipekerjakan sebagai tukang ramal masa depan melalui ritual bola kristal mirip seperti yang dilakukan oleh orang2 kuno, melibatkan doa2, dupa, dan mantra. Selama periode ini, baik anak2 maupun orang dewasa mulai melihat ke dalam bola kristal untuk alasan yang lebih praktis, seperti mengungkap identitas seorang kriminal atau mencari barang2 hilang. Catatan dari tahun 1671, misalnya, mengatakan bahwa seorang pedagang yang berkali-kali kerampokan berkeliaran di tengah malam ditemani seorang anak perempuan dan seorang anak lelaki, menyuruh mereka menatap melalui sebuah kristal sampai mereka menemukan orang yang mirip dengan si pencuri. Apakah dia menemukan orang yang benar, kita takan pernah tahu.

Tak dapat diragukan bahwa bola kristal yang paling terkenal di zaman Renaissance adalah milik John Dee, seorang ahli matematika dan astronomer Inggris yang dihormati yang dipekerjakan untuk menghitung waktu astrologi yang tepat untuk penobatan Ratu Elizabeth I pada tahun 1558. Dee amat tertarik pada scrying sebagai jalan untuk masuk ke dunia malaikat dan spirit, yang dipercayanya memiliki pengentahuan yang takkan didapatkan orang dimanapun. Dia memiliki sebuah bola kristal yang digambarkannya sebagai “sebuah telur besar yang paling terang, paling jernih dan paling menakjubkan”. Sayangnya, tak peduli berapa jam pun Dee menatap, dia tak dapat melihat apa2. Bukannya menyerah, dia malah menyewa tenaga Edward Kelly, seorang scryer profesional yang dianggap sebagai penipu oleh banyak cendikiawan. Bertahun-tahun kedua orang itu bekerja sama, Dee memberikan pertanyaan2 sementara Kelly menatap bola kristal dan melaporkan jawabannya. Bersama-sama, Dee dan Kelly menulis beberapa volume tentang pesan2 spiritual, termasuk salah satunya yang meramalkan hukuman mati Mary, Ratu Scotland, yang terjadi pada Februari 1586. Bola kristal Dee sekarang berada di British Museum, London, Inggris.

Seperti Dee, beberapa pembaca bola kristal modern mempergunakan globe mereka untuk berkomunikasi dengan dunia spirit. Yang lain membaca keberuntungan dan mencari orang2 hilang. Kebanyakan dari mereka menggunakan prosedur yang dikenal sejak dahulu, meskipun persiapan mereka tidak terlalu ribet. Persiapan yang mendetil dilakukan pada penampilan ruangan mereka, dan peramalan biasanya dilakukan dalam sinar redup. Sebuah bola kristal biasanya berupa benda bundar sempurna berdiameter sekitar empat inci dan bisa berwarna putih, biru, violet, kuning, hijau, opalescent, atau transparan. Secara tradisi, sebuah bola kristal berdiri di atas dudukan kayu ebony, gading, atau boxwood yang dipoles hingga halus. Ketika sebuah ramalan sedang dibacakan, sang peramal mungkin meletakkan bola itu di atas meja atau memegangnya di telapak tangan dilatarbelakangi kain hitam.

Sekarang, bola kristal biasanya dihubungkan dengan jendela studio2 cenayang komersil atau tukang ramal keliling yang, seperti Professor Marvel di cerita ‘The Wizard of Oz’, mengaku dapat “melihat segala dan tahu segala”. Meskipun seni scrying tak lagi dihormati seperti pada zaman dahulu, seni ini masih memiliki peranan penting di banyak kebudayaan. Yang paling terkenal, Dalai Lama yang sekarang ditemukan melalui scrying oleh komite pendeta yang mencari identitasnya dengan cara menatap Danau Lhotso di Tibet.


Diterjemahkan dari The Sorcerer's Companion by Alan Zola Kronzek dan Elizabeth Kronzek

Monday, April 04, 2005

About Fantasy

Daratan Eropa kaya akan folklore yang menceritakan tentang dunia dan makhluk khayalan. Especially England dan Ireland (sodaraan sih ya?). Maka memberikan ide kepada penulis2 Eropa untuk menggali imajinasi mereka tentang makhluk2 ini. Fairy tale dimulai di daratan Eropa dan kemudian menjadi mendunia. Siapa hayo yg gak kenal fairy, elf, dwarf, leprechaun, banshee, witch, wizard bertopi kerucut, werewolf, vampire, mermaid, dragon, unicorn, centaur, manticore, sampai ke manusia immortal Highlander dan monster Loch Ness dari Scotland? Sejak zaman dahulu kala penulis cerita fantasy banyak menelurkan cerita jempolan. Mulai dari Hans Christian Andersen (The Little Mermaid, The Tinder Box, Thumbelina, The Snow Queen, dll) sampai JK Rowling (Harry Potter series). Saking banyaknya novel fantasy yg gue baca sampai lupa lagi buku fantasy pertama yg dibaca yg mana (selain HC Andersen lho). Mungkin The Wizard of Oz-nya Baum, setelah itu Dracula-nya Stoker. And the list go on and on…

Penulis Amerika juga berani membuat buku dengan genre fantasy, meskipun makhluk2 fairy tale bukan berasal dari benua itu. Malah cerita2 mengenai fantasy yg berdasarkan spirit totem Indian, misalnya, jarang ditemukan. Penulis fantasy Amerika yg bukunya baru2 ini diterbitkan contohnya ‘the wonder boy’ Cristopher Paolini (Eragon) dan Clive Barker (Abarat). Mereka cukup percaya diri membuat dunia khayalan masing2 meskipun sesungguhnya asal-usul makhluk2 di dalamnya bukan berasal dari tradisi mereka.

Kenapa pengarang Indonesia nggak ada yg coba bikin fantasy? Mungkin karena nggak bisa nemu makhluk lokal yg lucu2? Contoh: siapa yg di pohon jambu belakang rumahnya ada kuntilanak? Genderuwo? Tuyul? Hiya! Jadi horor! Padahal, dongeng2 tradisional kita zaman dulu gak jauh2 dari khayalan. Tapi ya itulah, si sakti adalah tokoh antagonis yg biasanya tukang teluh. Calon Arang atau Candi Sewu misalnya. Atau malah kesaktiannya dipakai untuk mengutuk (Tangkuban Perahu, Malin Kundang), serem kan? Kita dijajah terlalu lama kah sehingga daya khayal seret?

Mungkin lebih beruntung cerita tentang superhero, Si Pitung misalnya. Bukan Gatot Kaca, ya? Ramayana bukan berasal dari sini. Tapi anak2 zaman sekarang ada yg kenal Si Pitung gak? Dulu ada Gundala Putra Petir (The Flash sekale seh?), belum lama ini ada Panci Manusia Alumunium (ehm, maksudnya Panji Manusia Millenium). Dua2nya, sori, garing! Bandingkan dengan Superman, Batman, Spiderman, Hulk, Wonder Woman, The X-Men, dll. Okelah, superhero bukan bidang orang2 Indonesia. Tapi bandingkan juga dengan negara2 Asia lainnya. Cina dan Jepang berjaya dengan cerita2 fantasy dan superhero mereka. Kenapa Indonesia gak bisa?

Adakah penulis Indonesia yg berani terima tantangan menulis cerita fantasy? Belum lama ini gue liat beberapa cerita rakyat ber-genre agak2 fantasy beredar lagi (Timun Mas misalnya dan Pramoedya yg menulis ulang cerita Calon Arang). Tapi nggak ada cerita baru, gebrakan baru. CMIIW. Soalnya, karena booming Harry Potter, banyak anak2 yg jadi menyukai fantasy.

Ada satu orang teman yg pernah berkata bahwa sekarang banyak penulis yg ikut2an nulis fantasy (penyihir) gara2 booming Harry Potter. No, gue gak setuju. Kenapa? Karena di Barat sana tiap tahun muncul banyak buku ber-genre fantasy, hanya nggak booming disini aja. JK Rowling bukan orang pertama yg menulis tentang penyihir. Ada Tolkien, Ursula K. LeGuin, Neil Gaiman, Phillip Pullman, C.S. Lewis, bahkan Shakespeare (anyone knows ‘A Midsummer Night’s Dream?’, very fantasy by Shakespeare). Semua pengarang itu seniornya Rowling. Karena Harry Potter booming disini maka penerbit jadi berani mencetak terjemahan buku2 fantasy. Beberapa malah telah beredar di negeri asalnya puluhan tahun yg lalu, seperti LOTR dan buku2 Roald Dahl (The Witches, Charlie and the Chocolate Factory, The Magic Finger, dll).

Kenapa baru setelah Harry Potter? Kenapa Harry Potter seakan menjadi pelopor? Mungkin karena ceritanya modern, penyihirnya anak tanggung, dan setting materialnya familiar (hey, Dudley Dursley hobinya main Play Station toh?). Sementara yg lain tidak familiar karena bersetting dunia antah-berantah atau zaman dahulu kala (1600-1800-an). Setelah film trilogi LOTR ngeborong Oscar di Academy Award tahun lalu, buku2 genre fantasy yg lebih tradisional Eropa mulai dicari. Hasilnya penerbit sini berhasil menjual Eragon dan Abarat. Jadi, bukan karena mereka ikut2an, tapi orang Indonesia aja yg baru ‘ngeh’ dengan cerita2 macam begini. Setelah ini mungkin bakal keluar terjemahan ‘His Dark Material Trilogy’-nya Pullman, ‘Bartimaeus Trilogy’-nya Jonathan Stroud, dan ‘Jonathan Strange and Mr.Norrell’-nya Susanna Clarke. Semua berhubungan dengan penyihir.

Fantasy bukan hanya monopoli anak2. Contohnya---lagi2---LOTR-nya Tolkien dan Stardust-nya Gaiman. Tapi gue jarang banget nemu orang dewasa disini yg suka dengan fantasy. Gue dengan suksesnya dikatain ‘masa kecil kurang bahagia’ atau ‘daya khayal ketinggian’ atau ‘kekanak-kanakan banget sih?’ cuma karena doyan melahap fantasy. Lho, kenapa memangnya? Mungkin karena itu juga pengarang Indonesia males menelurkan karya2 fantasy? Apalagi dengan makhluk ciptaan dan dunia ciptaan mereka sendiri?

Itulah, penulis Indonesia seakan terkekang dengan peraturan tak tertulis yg harus setia dengan kondisi, adat dan tradisi nasional. Kalau menyimpang memang takut dibilang gak punya rasa nasionalisme? Sori2 aja, rasa nasionalisme gue juga menipis akhir2 ini. Apakah pengarang Indoesia harus selalu menyuguhkan setting yg sudah familiar dengan pembaca? Ayo bikin gebrakan baru, ciptakan dunia sendiri!

Poppy
http://peopleofthestars.blogspot.com

Sunday, April 03, 2005

The Banshee

The Banshee
[bean sidhe]
©1996 - 2004, by Fiona Broome

When someone mentions a ghost, most of us think of cemeteries,
haunted houses, and human-sized transparent figures draped in
sheets. Likewise, the word "faerie" is linked with cute little
figures with wings, and merry mischief.

However, mention a Banshee, and people squirm. The Banshee, like a
ghost, can represent death to many people, but that is not her
actual role in folklore, or in our lives.

She can appear transparent, and is the size of a living person.
Nevertheless, like her fae counterparts, she is associated with a
more magickal Otherworld. Perhaps she is the link which shows us
that the Otherworld is a vast place, inhabited by many kinds of
beings, including faeries and ghosts.

The Banshee, in Irish the Bean Sidhe (pronounced "bann-SHEE"),
means "spirit woman." She is usually described as a single being,
although there are many of them. According to legend, one Banshee
guards each Milesian Irish family; these are the families whose
names start with O' or Mac, though those prefixes have been dropped,
particularly by American families.

Nevertheless, there is a Banshee for each branch of these families,
and the family Banshee can follow the descendants to America,
Australia, or wherever the Irish family travels or emigrates.
The Banshee protects the family as best she can, perhaps as a
forerunner of the "Guardian Angel" in Christian traditions. However,
the time we are most aware of her is before a tragedy that she
cannot prevent.

Traditionally, the Banshee appears shortly before a death in "her"
family. The Banshee is almost always female, and appears filmy in a
white, hooded gown. The exception is in Donegal, Ireland, where she
may wear a green robe, or in County Mayo where she usually wears
black.
However, if she is washing a shroud when you see her, she may merely
signal a major life-changing event in your future. The way to
determine this is to go home and burn a beeswax candle after seeing
her; if it burns in the shape of a shroud, her appearance foretells
death.

The night before the death, the Banshee will wail piteously in
frustration and rage. Her family will always hear her, but many
others in the area will, too. For example, Sir Walter Scott referred
to "the fatal banshi's boding scream."

One of the largest reports of this wailing was in 1938, when the
Giants' Grave in County Limerick, Ireland, was excavated and the
bones were moved to a nearby castle. Those who heard the crying
throughout central Ireland, said that it sounded as if every Banshee
in Ireland was keening.

That wailing of many Banshees is unusual but not unique. There have
been other reports of several Banshees manifesting together. When a
group of Banshees are seen, it usually forecasts the dramatic
illness--and perhaps death--of a major religious or political
figure.

In Irish mythological history, the Banshee tradition may link to the
fierce Morrighan as the "Washer at the Ford," a legend of Cuchulain.
In this story, the Morrighan appeared as a young woman who prepared
for an upcoming battle by washing the clothing--or perhaps the
shrouds--of those who would fight and lose.

Despite her grim reputation, seeing or hearing a Banshee is not what
actually causes the death. In fact, the Banshee is traditionally a
very kind woman, as poet and historian W. B. Yeats commented, "You
will with the banshee chat, and will find her good at heart."
Perhaps her appearance and wailing before a death are efforts to
protect her family from a death or other tragedy that she foresees.
This is where we see the clearest link to what are popularly
called "ghosts." In many stories, the spirit appears to warn the
living about danger, illness, or death. Gothic novels often feature
a ghost whose appearance forecasts the death of a family member.
Likewise, in the Sherlock Holmes story, the Hound of the
Baskervilles howled before a family death.

In real life, my maternal grandmother and her siblings were
individually visited by the spectre of their mother, to warn them of
her imminent death in a hospital many miles away, and to say good-
bye.

This level of concern for the living is consistent with many ghosts,
as well as the Banshee.

Whether the Banshee is more correctly a "ghost" or a "faerie" is an
discussion that may never be resolved. However, we can see the
Banshee as the clearest evidence that the line between ghosts,
spirits, and faeries is vague at best.

For more information about the Banshee, one of the best studies
is "The Banshee: Irish Death Messenger," by Patricia Lysaght
(paperback,© 1986, Roberts Rhinehart Publishers, Colorado).

Cry of Banshee
have heard many people say that they have seen the other world or
seen loved ones from the other world, but have they heard the
Banshee cry?

The word Banshee comes from the Irish word "Bean-sidhe" ban
(bean), a woman, and shee (sidhe, a faery), (pronounced Bann
shee) . From the mythical race of the Tuatha de Dannan, or fairy
folk. But other sources say that 'Bean Sidhe' is translated
as "woman of the hills." . the Banshee is seen in many forms, from
a crow to an old hag. Truthfully, from all accounts, she is seen as
a woman. She is often described as a beautiful young woman with
streaming auburn hair, wearing a green woollen dress with gray
cloak clasped about her shoulders. She has also been seen wearing
either a grey, hooded cloak or the winding sheet or grave robe of
the unshriven dead.

A Banshee may also appear as a washer-woman, and is often seen at
rivers and waterfalls. On the battlefield she can be seen washing
the clothes of a solider who will soon be lost in battle. In this
guise she is known as the bean-nighe (washing woman).

Though she is not always seen, her mourning call is heard, usually
at night when someone is about to die. The only hint that this
beautiful Banshee is a messenger of doom comes from the fact that
her eyes are blood red from crying for her dead.

In all respects the Banshee is seen as a bearer of bad fortune or
death, but in actuality she is foretelling the inevitable and
paying her respects to the soon to be departed.

Many have seen her as she goes wailing and clapping her hands. The
keen (caoine), the funeral cry of the peasants, is said to be an
imitation of her cry. When a multiple Banshees wail together, it is
for the death of someone very great. When a member of the beloved
family is dying, she paces the dark hills about his house. Her
sharp, cries and wails piercing the night air.

Tradition and myth surrounds the function of the Banshee including
the families for which she is bound. Some have said that she owes
allegiance to the five major irish families — the O'Briens,
O'Neills, O'Connors, O'Gradys and the Kavanaghs. Along those lines
is the tradition of allegiance to all families starting with Mac,
or O. Each banshee has her own mortal family, she follows, And she
has been heard in America, England and other places where the Irish
have settled. In shadows and unseen the Banshee attends the funeral
of those families whom she is connected with, her voice blending in
with the cries of the other mourners.

A common myth is that if you catch her, she is obliged to tell the
name of the doomed — but would you really want to know?
Many stories have been told about the Banshee from localised fairy
tales to goulish hauntings. An omen that sometimes accompanies the
banshee is the coach-a-bower (coiste-bodhar) an immense black
coach, mounted by a coffin, and drawn by headless horses driven by
a Dullahan. It will go rumbling up to your door, and if you open the
doors a pail of blood will be thrown in your face.

In 1437, King James I of Scotland was approached by an Irish seeress
or banshee who foretold his murder at the instigation of the Earl
of Atholl. This is another example of a banshee but in human form.
There are records of several human banshees or prophetesses who took
part and were members of some of the great houses of Ireland and
the courts of local Irish kings.

In parts of Leinster, she is referred to as the bean chaointe
(keening woman) whose wail can shatters glass.
In Kerry, the keen is a soft enjoyable singing.
In Tyrone the sound is like two boards struck together.
And on Rathlin Island it is a screeching sound like a wail of a
woman.

Whether you believe in the Banshee, or the tradition which lies
behind it. I just wish you all a peaceful sleep, and the crying in
the night is just the wind knocking at your window pane, I
promise...
*Article courtesy of George Treanor, The Irish Heritage Group

===> Thx to Audriel

Saturday, April 02, 2005

Quotes of the day

"It is not our abilities
that show who
we really are,
it is our choices."

(J.K. Rowling,
Dumbledore in
Harry Potter and
the Prizoner of Azkaban)

Friday, April 01, 2005

GA PUASSS

Baru nambah shoutbox...
Ga puas, settingannya masih banyak yg kurang, Hmmm... waktunya ga banyak sih...
Mudah2an Besok Internet (salah satu cara muggle berkomunikasi adalah lewat Internet) dipasang di ktr!

I wish I have that TimeTurner... *sigh*

Thursday, March 31, 2005

Bloomsbury Siapkan Tahun Penyihir

London -- Bloomsbury, penerbit Harry Potter, memprediksi akan membuat keuntungan 20 juta pound sterling tahun ini dari banyaknya pesanan yang diperuntukkan bagi episode lanjutan petualangan bocah penyihir berkacamata itu.

Buku baru karya J.K. Rowling itu, yang berjudul Harry Potter and the Half-Blood Prince, direncanakan akan terbit pada 16 Juli. Menjelang peluncuran buku itu, Bloomsbury telah mengantisipasi meledaknya pesanan awal untuk buku keenam tersebut.

Bloomsbury tidak mengungkapkan gambaran penjualan tapi menyatakan bahwa permintaan untuk buku tersebut akan memberikan keuntungan besar jauh dari harapan. Perusahaan itu memperkirakan keuntungan 20 juta pound sterling, lebih besar dari analisis pihak keuangan kota London yang mematok nilai 18 juta pound sterling.

Selain mengumumkan bakal keuntungannya, perusahaan itu mengabarkan hasil keuntungan pada 2004, dengan kenaikan 6.9 persen, yang mencapai 16,4 juta pound sterling. Dalam usahanya untuk mengembangkan fenomena Potter, Bloomsbury tengah mencari dan menambah penulis-penulis pemula untuk mengulangi kesuksesan J.K. Rowling, yang langsung tenar pada buku pertamanya.

Hasilnya, penjualan pada tahun lalu telah didorong oleh sejumlah penulis pemula yang mencapai penjualan terlaris. Buku terlaris di Amerika adalah Jonathan Strange and Mr Norrell, sebuah novel yang ber-setting perang Napoleon yang ditulis oleh Susanna Clarke, yang baru menulis untuk pertama kalinya. Sementara itu, di Inggris, buku laris dicapai The Two of Us, sebuah biografi aktor Inggris John Thaw oleh jandanya, Sheila Hancock.

Buku itu telah membantu menambah penjualan buku-buku dewasa dari Bloomsbury sekitar 64 persen. Perusahaan itu juga menjanjikan kemajuan signifikan tahun ini dengan judul baru karya John Irving dan Ben Schott dan versi paperback dari buku-buku yang laris.


Namun, perhatian utama tahun ini tak dapat diragukan lagi, akan diperoleh buku keenam Rowling. Dalam edisi kelima sebelumnya, Harry Potter and the Order of the Phoenix--muncul pada 2003 setelah tiga tahun jeda--membuat perusahaan penerbitan tersebut mencatat sejarah dengan menjual lima juta kopi dalam waktu 24 jam. Penjualan buku itu juga didorong oleh munculnya film Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Namun, sepanjang 2004, penjualan buku-buku anak turun 23 persen sesuai dengan prediksi mereka sendiri.

guardian

Kiriman dari Punto, Thx yaaa...
Besok ada di Koran Tempo

Harry Potter and the Half-blood Prince

Nebak-nebak HP&HBP yuk…
Ini aku dapet dari forum Sugarquill Kali aja bermanfaat…

Cover HP&HBP dari Bloomsbury versi adult cukup memancing, dan sudah banyak yang didapat dari sana (atau yang justru menyesatkan? Hehe..)




Pertama, ada sebuah buku kuno. Atau buku lusuh (Kalau buku lusuh pasti yang punyanya nggak jauh-jauh: Weasleys… hehe).

Buku kuno ini bertitel: ADVANCE POTION BORAGE. ‘Advance Potion’ mungkin judulnya, sementara ‘Borage’ adalah nama akhir pengarangnya. Mungkin yang punyanya Snape. Hehe. Atau Dumbledore. Flamel? Mungkin, lho. Mungkin saja isinya memang tentang ramuan dari Borage.

Borage itu apa?

Dalam kepustakaan Muggle, Borage (Borago officinalis) itu adalah tumbuhan yang digunakan untuk campuran semacam mayones, untuk pewangi, atau dibuat teh untuk menenangkan hati.

Tetapi, dalam kepustakaan Muggle juga ditemukan bahwa Borage ini merupakan salah satu unsur dalam ramuan Nepenthe dan berfungsi untuk:

Whoever drank this mixture in the wine bowl
would be incapable of tears that day –
though he should lose mother and father both
or see, with his own eyes, a son or brother
mauled by weapons of bronze at his own gate
( The Odyssey – Homer, Book IV line 221-226)

Lihat juga di sini:

Borage is a nutritious, tasty, and attractive herb. Leaves have a cucumbery flavor and can be used to accent salads or mixed with other greens and steamed. Stems can be peeled and chopped to use like celery. The edible flowers can be used as a garnish or in salads, and when candied they make a beautiful decoration for cakes and pastries. I grow borage as a companion to my tomatoes. They improve the health of my tomato plants, and I could swear the tomatoes taste better when borage grows nearby!

Dan di sini:

Growth form:herb
Uses: medicinal and/or cooking herb, used for coughs
Outside Info: Grows to 60cm, with blue star-like flowers. The flowers can be used to decorate salads and cakes. The leavs flavor drinks and dips. A leaf and flower infusion is an adrenalin tonic for stress, depression, or cortisone and steroid treatment. It reduces fevers, dry coughs, dry skin rashes, and stimulates milk folow. Pressed seed oil can be used for menstural and irratible bowel problems, eczema, blood pressure, arthritis, and hangover. The flowers produce a nice pure blue for paints. Mix leaf with barley and bran in a small muslin bag and use in a bath to cleanse and soften skin.

Juga ada magical usage:

Magickal: Borage is legendary for its spirit-lifting and courage-inducing properties. Celtic warriors drank wine flavoured with borage to give them courage in battle, and it has always been considered it a very effective anti-depressant for the feeling of elation it induces. For courage, tuck a Borage blossom in your pocket before any stressful situation, or drink a tea or glass of wine flavoured with Borage leaves. Drinking Borage tea is also said to increase psychic powers.

Medicinal: Borage has been used since early times in teas to relieve depression and reduce fevers. The flowers or leaves are helpful for relieving the symptoms of bronchitis, and also act as an anti-diarrhoeal remedy. Externally, Borage leaves can also be ground into a paste and make a cooling and soothing remedy for sprains, swelling, and skin inflammations and irritations.

And this according to Pliny:


Pliny credits borage flavored wine as being the Nepenthe of Homer, the consumption of which made one forgive their enemies. It would seem that borage was believed to ease the disheartened as well, since in his De Materia Medica, the Greek physician Dioscorides wrote that taking borage would “cheer the heart and lift the depressed spirits.”

Atau:
'Pliny calls it Euphrosinum, because it maketh a man merry and joyfull: which thing also the old verse concerning Borage doth testifie:
Ego Borago - (I, Borage)
Gaudia semper ago. - (Bring alwaies courage.)

Apakah Harry akan diminta meminum ramuan Nepenthe untuk melupakan kepedihan hatinya?
Atau Snape yang biasa meminum ramuan itu? Sehingga dia terkesan dingin, biasanya tidak memamerkan “wear your heart on your sleeve" dan "wallow in sad emotions”, karena ramuan ini?

Lebih jauh lagi, apakah Half-blood Prince itu Snape? Karena itu JRK sepertinya ragu-ragu mengatakan ‘Snape itu pureblood’ dalam salah satu wawancaranya.

Yah, marilah kita ramai-ramai menebak, sebelum semuanya terjawab 16 Juli nanti …

Tuesday, March 29, 2005

Hungarian Horntail

New pictures of Hungarian Horntail

Here's the portkey to check 'em out! Thanks to MuggleThai.com for the pics!
Learn more on magical creatures with Prof. Hagrid in the forbidden forrest!

Blog untuk HarryPotterIndonesia.com

Sementara masih kosong, nanti aku tambahin pernak-pernik deh (tentu saja yang Harry Potter related donggg...) :)