Saturday, April 09, 2005

Slytherin dan fenomena muggle

Pada suatu hari, ketika untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa ada kekuatan sihir yang saya miliki, semuanya begitu baru buat saya. Saya hanya menyadari ada penyihir hitam dan putih di dunia ini.

Bahwa Voldemort itu jahat, bahwa Salazar Slytherin itu penyihir gila yang membenci muggle dan half-blood, dan bahwa Snape adalah guru gila yang tidak tahu berterima kasih telah diselamatkan dengan Dumbledore.

Yang benar itu adalah Harry Potter dan ganknya yang berkumpul di Gryfindor. Dan tentu saja, sebagai penyihir baru, aku ingin sekali bisa masuk Gryfindor. berkumpul dengan orang-orang yang berani dan berjiwa pahlawan. Bukankah itu tujuan kita hidup? Menjadi pahlawan buat orang lain. Menjadi orang baik. AKu merasa Ravenclaw dan Hufflepuf juga merupakan kumpulan penyihir-penyihir baik yang mensupport penyihir-penyihir dari Gryfindor.

Slytherin? Hanya kumpulan penyihir-penyihir kegelapan yang sama sekali tidak kuperhitungkan selain mereka adalah calon penyihir hitam yang harus kita waspadai.

Maka aku memandang rendah Snape, Malfoy, bahkan Salazar Slytherin itu sendiri. Sampai suatu saat, aku disadarkan, dunia tidak hanya berupa hitam dan putih saja. Bahwa menjadi Slytherin bukan berarti dia akan jadi penyihir hitam.

Lihatlah Snape...dengan wajahnya yang dingin, dia bisa mengendalikan pikirannya dan hatinya, sehingga menjadi orang kepercayaan Dumbledore, sekaligus dia bisa menyusup kepada Voldemort. Mata-mata yang sungguh berharga, apalagi dengan fakta dia bermusuhan dengan Harry dan kawan2

Padahal dengan bermusuhan bukan berarti Snape bukan penyihir jahat...satu fakta yang luput dari perhatian yang lain.

Voldemort, yang menggembar gemborkan pemurnian darah sihir. Dia sendiri bukan pure-blood. Tetapi toh ada di Slytherin. Bagi saya Voldemort adalah korban dari masa lalu dan dendamnya kepada muggle. Ayahnya yang muggle dan selalu menyiksanya dan ibunya, membuat dia begitu membenci muggle. Pada akhirnya dia seperti kesetanan dan ingin berkuasa. Karena dia pikir, dengan berkuasa maka dia akan disegani, sekaligus membalas dendam kepada ayahnya.

Lucius Malfoy mungkin sosok yang jahat dan gila akan pemurnian darah. yang toh muggle juga banyak melakukan. Tentu kita tahu banyak kejadian di dunia muggle tentang pembersihan etnis karena merasa ras nya lebih supeior dibanding rasnya sendiri...

Ah...banyak hal yang ingin kukatakan...sekarang ini tentu aku tidak memandang sebelah mata keapda Slytherin, karena kuyakin ada calon penyihir baik di sana, jika kita mau berkawan dan bersahabat dengan mereka tanpa meninggalkan kewaspadaan. Bukankah itu yang diminta oleh topi seleksi?

Kalau memang Slytherin hanya tempat cikal bakal penyihir jahat...buat apa tetap ada di Hogwarts? Pasti ada alasan untuk itu, kan?

Aku mungkin masih baru sebagai penyihir...tetapi aku tidak ingin menjadi penyihir picik yang salah menilai ^^;;

1 comment:

Aranolein said...

Setuju!Karena:

"It is not our abilities
that show who
we really are,
it is our choices."

(J.K. Rowling,
Dumbledore in
Harry Potter and
the Prizoner of Azkaban)